cerita dari muaradua dan harapan tentang desa

mas yossy suparyo di hadapan warga muaradua

dah lama banget gak nulis di blog ini, mungkin kalo gak suntuk banget kayak sekarang, ini blog belum di upload juga. artinya, memang ngeblog saya belum sebenar-benar ngeblog, karena masih berdasarkan suasana hati. yaelah bro, namanya juga ngeblog, gak usah serius-serius amat kali.

tapi, kalo gak serius, gimana mau jadi blogger sejati?
udah dech, gak usah lebai jadi blogger sejati. jalani ajalah hidup, kalo lagi menikmati ngeblog, yah nulis aja sampe bosan. klo mau jalan-jalan yah jalani aja selagi masih ada ongkos dan duit buat makan, untuk tidur kan masih bisa di pom bensin, terminal atau mesjid, syukur-syukur ada kawan yang mau kasih tumpangan.
ngapain ger ngeblog? tadinya mau nulis artikel berita, atau apalah yang sejenis untuk diposting di sukabumitoday.com yang baru migrasi ke wordpress itu, tapi karena nulis disana masih bingung, dan lagi belajar kembali apa itu jurnalisme warga dari buku kang yossy, ya udah saya ngacapruk dulu dech di blog ini, minimal gak terus-terusan nyampah di linimasa, atau bahkan nyampah di web stcom.
biar ada manfaatnya dikit, yah dikit ajalah gak usah banyak-banyak biar gak mabok. saya mau cerita tentang gerakan desa membangun yang saat ini mulai meracuni warga sukabumi, salah satunya di desa muaradua, kadudampit. saya kebetulan mengetahui setelah ngobrol dengan pionernya pas acara pestarakyat di bandung sabtu kemarin.
ini rada serius yah

nah, dari pertemuan di bandung, tepatnya di stand desa mandalamekar yang di fasilitasi stand pojok pendidikan, saya ngobrol banyak dengan orang-orang hebat dari desa, yang mampu menginspirasi ratusan desa lain di indonesia untuk bangkit dan berdaulat sebagai desa. di pertemuan ini jua yang membawa saya datang ke muaradua, sebuah desa di kaki gunung gede kecamatan kadudampit.
keingintahuan saya akan gerakan ini serta merta menyeruak, dan obrolan panjang saya dengan kang yossy makin membuka cakrawala saya akan sebuah cerita dari desa yang membuat saya tercengang. ini bukan sembarang gerakan, ini sebuah usaha membangun peradaban yang dimulai dari titik nol sebuah pemerintahan.
desa, tempat yang saya sendiri malas untuk tinggal disana karena semacam belum menemukan harapan sebuah kehidupan yang lebih baik. janji peradaban sangat sulit ditemukan disana, bahkan bisa dibilang sudah punah. tempat yang bernama desa kini lebih suram dari kejamnya ibukota, bukan hanya tidak ada harapan, bahkan untuk sekedar persaudaraan pun sudah mulai pudar.
udah panjang aja ni tulisan, intinya apa yah?
intinya saya sangat terinspirasi dengan gerakan desa membangun ini, gerakan yang memberikan harapan tersendiri bagi saya, bahwa perubahan di kampung halaman saya bisa di lakukan dengan lebih sistematis melalui gerakan ini. gak dengan muluk-muluk sih, saya cuman mendapat harapan, saya bisa berusaha untuk berbagi di kampung halaman ini dengan sebuah cara yang sudah terbukti dan minimal memberi harapan. setidaknya saya percaya, bila kebaikan itu dilakukan dengan baik dan ikhlas, maka dia akan menyebar dengan mudah.