Epilog poligami – sebuah puisi abah

“aku ingin poliandri”, sahut istriku suatu hari
“izinkan aku, kalo memang kita setara”, timpalnya kemudian
aku termenung, kemudian ku jawab dengan tanya, “apakah aku poligami?”
“kamu adalah cintaku yang satu”, jawabku.

Kamu mendengus
Kamu memaki
Kamu tersenyum

Kamu menyandarkan wangi tubuhmu di dadaku
Kamu berbisik,”kamu nggak mau poligami?”
Aku termenung
Aku terbengong
Aku tersenyum
Aku bisikan didekat telinganya,” aku ingin, tapi aku tak mampu”

Kamu terhenyak
Kamu merengut
Kamu mencium pipiku
“apakah kamu poligami jika mampu?” desakmu

aku terpana
terpesona
tertawa
“apakah aku mampu?” tanyaku, “apakah kamu mampu”, timpalku kemudian.

kamu mengerang
kamu menyerang
“kamu tak akan mampu!” katamu meninggi
“andaikan kamu mampu, aku tak mampu”, ujarmu kemudian

aku tersenyum
kamu menangis
aku tersipu
kamu cemberut
aku memelukmu
kamu ngambek
aku rayu kamu
kamu pura-pura marah
aku diam
aku tidur
aku terlelap

“kamu bener-bener ingin?” ujarmu esok
“aku siap”, katamu
aku terperanjat
aku terperangah
kamu tersenyum
kamu tertunduk

“kamu mampu?” tanyaku
“aku mampu, tapi kamu tak mampu”, ujarmu tenang
aku terhenyak
aku lunglai
kamu tersenyum
kamu mendekapku
kamu menciumku

“aku mencintaimu”, bisikmu
kamu tersipu
aku tersenyum
kamu diam
aku diam
aku tersenyum, tertawa, tergelak
kamu bingung

“aku telah poligami” ujarku
kamu kaget
kamu terperanjat
kamu terperangah
aku tersenyum

“kamu jahat!” teriakmu
kamu marah
kamu ngamuk

“aku mencintainya”, kataku
“kamu pasti setuju, kamu pasti mampu”, timpalku
kamu panik
aku tersenyum
kamu terdiam
termenung

“aku poligami, dengan harta, dengan tahta dengan dunia”,
kamu bingung
aku tersenyum
kamu cemberut
“jadi?” tanyamu
“kamu poligami dengan perempuan?” tanyamu penasaran

aku tertawa
kamu penasaran
aku terbahak
kamu merajuk
“aku berpoligami dengan perempuan juga” ujarku
kamu cemberut lagi, “serius, kamu menikah lagi?” kejarmu makin penasaran.

Aku tersenyum
“aku mampu, kamu mampu”, kataku
“akupun juga poliandri”, katamu
“aku poliandri dengan arisan, dengan shopping, dengan hartamu”, tambahmu
kamu tertawa
aku tertawa

kamu bahagia
aku bahagia
“aku mencintaimu, harta, tahta dan dunia”
“aku juga mencintaimu, arisanku, dan shopping dengan kolega”

pojok riset, 081206

5 Comments