jangan pernah mau masuk (lagi) term.Kp rambutan

pas jalan-jalan ke Bandung kemaren, aku pulang ke Lampung melalui terminal Kp. Rambutan yang merupakan terminal cukup ber gengsi di Ibukota.
namun sayang, kemewahan suasana terminal ternodai oleh tingkah polah para penghuninya mulai dari petugas peron, calo-calo, pengamen dan pedagang asongan.
pertama turun dari sebuah bis Sukabumi-Kp.rambutan, aku sudah di tarik-tarik dan di tanya-tanya dengan tidak sopan, kemudian aku menghindar dengan mampir ke sebuah toko buku+koran. setelah membeli sebuah koran saya masuk area terminal antar kota antar provinsi dan mesti membayar peron sebesar 200 rupiah, saya memberikan uang 500 rupiah namun petugas tidak memberikan kembalian. namun setelah saya desak untuk dikembaliin, akhirnya dia mengembalikan sebesar 200 (kurang 100 rupiah, sambil cemberut).
masuk terminal saya memilih naik bis AC sebuah bus menuju merak, namun saya dihalang-halangi untuk masuk bus pilihan saya agar masuk bus ac yang lain yang masih kosong. akhirnya saya ngotot dan beradu mulut, baru kemudian saya bisa leluasa masuk bus ac tersebut.
setelah duduk di bis dan merasa tenang, tiba-tiba masuk para pedagang asongan dan pengamen. mereka menawarkan dagangan dengan paksa dan menggunakan cara kekerasan, bahkan ada yang menawarkan sambil menyodorkan senjata tajam. namun dengan penuh perhitungan saya tersenyum dan bilang saya tidak berminat dan tak punya uang, eh dia malah makin sewot, walaupun akhirnya saya bisa menyiasatinya, namun teman-teman penumpang lain yang agak lugu terpaksa membeli barang yang tidak perlu itu karena ketakutan.
saya pun kena oleh seorang pengamen tanggung, dia meminta uang dengan paksa yang akhirnya untuk menghindari pertikaian saya kasih 1000 rupiah.
sebenarnya bukan masalah uang 100 rupiah (kasus peron), dan uang 1000 rupiah (untuk pengamen), tapi para penumpang perlu kenyamanan dan uang kembalian peron itu merupakan hak, karena apabila semua penumpang tidak diberikan kembalian (apalagi bila membayar dengan uang seribu) tentu banyak uang yang tidak masuk kas daerah, melainkan masuk kantong pribadi petugas dan sangat tidak halal karena penumpang tidak ikhlas.
akhirnya tolong kepada pihak yang berwenang agar menindak lanjuti masalah ini, atau potensi PAD terminal lama-kelamaan akan hilang dengan kapoknya para pengguna jasa teminal Kp.Rambutan.

2 Comments