Membaca diri

membaca rangkaian karya teman yang hilang ditelan kelam,

kubaca syair demi syair

seperti membaca nasihat kawan dari jauh.

Lalu kurenungkan

kata demi kata,

ada sindiran

ada kegetiran,

lainya adalah sumpah serapah pada keadaan.

Yah, menyumpahi kegetiran.

Ada syair diri,

ada syair pencuri,

ada syair pemimpi,

ada syair anarki.

Kubaca bait demi bait,

tak ada retorika

yang ada kejujuran dan laporan pandangan mata

sebuah “kata-kata yang mula-mula menyumpal ditenggorokan lalu dilahirkan ketika kuucapkan” begitu kata sebuah bait di syair berjudul sajak.

Aku termenung

ketika terbayang raut kepenatan

yang sempatsempatnya meluangkan waktu untuk bersyair

dalam hening dimalam sepi, jika dada rasa hampa dan jam dinding yang tak retak, “sajakku adalah kata-kata” katanya,

yah kata-kata dari keringat yang menguap setelah seharian pandangi bumi yang telah tua. “sajakku adalah kebisuan”, yah kebisuan yang tercermin dari sebuah ketakutan.

Hari ini

kupahami arti sebuah kata-kata

yang berbaitbait menjelma jadi puisi,

tak lelah meski berbarisbaris

membuncah meluapkan amarah.

Aku mungkin tak seperti wiji yang meradang mengecam durjana,

lalu berteriak, lawan!

Hari ini kuakui,

wiji berteriak dari hati nurani,

tentang diri dan istri,

tentang keluarga dan sanak saudara,

tentang tetangga dan bapak tercinta.

Aku mungkin tak seperti wiji yang berkata seperti pembaca berita,

yang memaki kebohongan dan kecurangan,

disekelilingnya,

dibumi nusantara tercinta.

Aku hanya pembaca

yang kadang terpesona

dan mencoba

ikut berkatakata yang belum tahu sebenarnya,

hanya prasangka.

12 juli 2006