Pelancong Malas rehat sejenak di Peraduan

Narsis di depan Anjungan Saka Telematika RAIDAXIIJABAR
Larut malam di barengi rintik hujan menyambut kaki yang baru saja saya jejakan di aspal jalan pertigaan pintu hek Kota Sukabumi. Waktu menunjukan pukul 22.45 wib setidaknya itu yang bisa  saya baca di handphone nexian dengan dual sim malam itu. Sukabumi terasa dingin, apalagi hujan yang mengiringi langkah kaki disepanjang jalan A Yani yang saya lalui menuju perempatan otista.
Untuk ke sekian kali, saya pulang larut malam dari Bandung. Kota yang dulu terkenal dengan kota kembang, lalu menjadi kota “heurin ku tangtung”, kini hanya terlihat lautan banjir dan kemacetan disetiap sudut kota. Itu yang menjadikan setiap saya perjalanan sukabumi – bandung, layaknya perjalanan jauh yang harus memberikan “spare time” kuranglebih 2 jam bila akan mengikuti acara. Mungkin juga karena saya menggunakan kendaraan umum jenis Bus, yang tentunya akan sering terjebak kemacetan, ah makin malas aja jadinya jadi pelancong :D.
Saya baru saja melintasi Kota Bandung setelah dari Bumi Perkemahan Kiarapayung  – Jatinangor selapas acara Raimuna Daerah Jabar yang ke XII tahun 2012. Saya bergabung bersama kawan-kawan Saka Telematika, sebuah Saka Rintisan di bidang Telematika yang hadir atas prakarsa Telkom dan Kwarda Jabar. 3 hari lamanya saya bergabung bersama mereka, berbagi ilmu dan diskusi dunia TIK dan apa yang bisa di jalankan oleh kawankawan pramuka. 
Biasanya sepulang dari luarkota, bila masih ada waktu untuk singgah dan ber sosialita dengan teman-teman nongkrong, saya akan menyempatkan ngopi sejenak di beberapa alternatif tempat ngopi yang jadi langganan seperti @Seecul dan @Sukakopi_ , keduanya adalah kedai kopi yang menjadi tempat favorit hangout di Kota Sukabumi. Namun, sepertinya badan kurang begitu mendukung, bawaan yang cukup berat juga bisa menjadi alasan sih, karena merupakan perlengkapan camp seminggu yang dibawa.
Sambil nyari angkot yang akan membawa saya ke Baros, tempat saya tinggal saat ini, saya mampir ke Bandros Barsa untuk membeli cemilan agar sampe rumah bisa menikmati makanan yang hangat teman ngopi sambil menghangatkan tubuh tentunya. Sedikit nunggu karena ada beberapa yang antri, satu bundel bandros seharga delapan ribu rupiah akhirnya saya bawa pulang dan saya nikmati sambil menuangkan tulisan ini. 
Sampe rumah, rupanya kebiasaan yang kini mulai menjadi bagian hidup, buka tas, pasang laptop dan kabel-kabel, bersih-bersih badan, bikin kopi, beresin baju kotor, dan mulai menyapa dunia online kembali. Hampir 4 jam lepas dari jejaring sosial karena keterbatasan baterai yang mengakibatkan akses smartphone terhambat, yah minimal memberikan kesempatan untuk rehat sejenak dari keriuhan beranda facebook dan linimasa twitter.
Ada beberapa agenda yang sudah ada dikepala, dipikirkan sepanjang jalan (karena gadget off :p) dan tentunya kegiatan yang sedang dilakukan baik yang di twitter maupun di kegiatan komunitas yang sedang di kelola. Artinya, harus istirahat agar besok mulai berlari lagi memacu semangat dalam  berkarya baik untuk bisnis, karir maupun kegiatan sosial yang saya rasa tetap penting di jaga agar tetap ada semangat berbagi dalam perjalanan hidup saya.
Akhirnya, diujung paragrap ini saya harus rehat sejenak. Meluruskan badan, menyegarkan pikiran, dan membiarkan jatah jiwa dan raga untuk menyiapkan energi untuk esok. Selamat malam ya buat kalian yang membaca tulisan ini saat ini dipublish, selamat pagi, siang, sore dan malam juga buat kalian yang baru membacanya entah kapan.