Perempuan Hitam Yang Berkelebat – sebuah cerpen

Ketika pagi itu hadir, dan seperti pagi – pagi yang lain aku termangu. Hiruk pikuk pagi buta telah menyelamatkan dari kelamnya malam dan suara – suara malam yang menakutkan. Bunyi krek – krek – krek dari polytron pinjaman diatas lemari kayu baru, mungkin sudah bosan dengan lantunan sehingga dia mengerang dan membabi buta untuk bersumpah serapah dipagi buta.

Bangun pagi adalah rutinitas yang paling kubenci, namun tak kucoba untuk ku usik. Karena dendam tak akan memudarkan kemarahanku pada malam. Sisa – sisa malam masih menempel dibibirku yang kering dan penuh keluh, sehingga pagi pun mungkin muak untuk menyambutku. Ah, hari ini penuh dusta, atau memang pagi itu sunyi telah mati.

Perempuan hitam berkelabat di depan pondok riset yang berjejer dengan ruang – ruang lain yang kosong dan senyap. Tak ku risaukan bila setelah itu kau menghilang dipelupuk mataku. Atau kau tenggelam di Danau Ranau yang sunyi tanpa ada sepasang mata pun menjadi saksi, dan tak kudengar lagi kisah mu. Tak ku hiraukan bila angin membawamu ke alam lain tanpa menyisakan semilir di hidungku. Dan aku pun begitu masa bodoh, sehingga alunan morning show sebuah station radio menghalau memorimu.

Perempuan hitam itu berkelebat untuk kedua kalinya di depan pintu yang setiap hari aku termangu didepannya sambil sedikit ku hirup angin pagi dengan sebatang class mild sisa kemarin. Dan lewat begitu saja seperti bunyi klakson sepeda motor yang pagi itu begitu ramai melewati jalur kampusku, mungkin terburu – buru seperti para peserta test CPNS yang takut kesiangan walau 10 menitpun, karena katanya kalau terlambat 10 menit konon tidak diperbolehkan masuk untuk mengikuti test. Ah peduli amat dengan CPNS, toh aku masih bisa menghirup secangkir susu coklat dan sebatang class mild, toh aku masih bisa..

Ah.. perempuan hitam itu kembali berkelabat namun tidak untuk melewati lorong iitu, tapi pergi meninggalkan sisa – sisa malam untuk menyambut pagi. Namun tak kurisaukan bila kau tak berkelebat dipelupuk mataku tiga kali dipagi ini. Kemudian kulitku disayatnya hingga darah segar menetes ke kerah bajuku. Warna merah berbau amis telah menjadi satu dengan satu – satunya kaus oblongku yang sudah sebulan belum dicuci. Sayatan demi sayatan kau toreh disekujur tubuhku yang hitam legam penuh noda, sehingga garis belang berwarna merah menjadi hiasan yang begitu khas. Dan entah mengapa kadang luka sayatan itu begitu saja kubiarkan tanpa sedikitpun ku perdulikan.

Kau temui aku waktu itu untuk suatu keindahan, yang hanya sepi dan sedikit gerimis yang tahu arti keindahannya. Atau ketika kau kirimkan sihirmu dengan berupa kain percak hitam bertuliskan arab gundul berwarna merah yang kau selipkan disaku jas hujan yang kau pinjamkan ketika kuterjebak guyuran air dari langit senja itu. Dan kau terkam aku dengan cakarmu yang lembut tanpa kuku bak tangan permaisuri dari kahyangan, dan aku terbang bersama malaikat ke kahyangan. Namun, mimpi – mimpi itu hanya singgah pada hari – hari terakhir perjumpaan denganmu, setelah pagi itu kau pergi ke “neraka”.

Akankah gerimis itu menjemput malam – malamku yang hingar bingar ketika kodok, jangkrik dan lolong anjing bersimfoni. Sepi telah mengirimku ke jurang yang paling dalam di relung hitammu yang maya.

Baru ku tahu kenapa aku harus berbagi dengan malam, dengan lorong yang hitam, dengan lolongan anjing, dengan sampah – sampah, dengan tetes embun, dengan secangkir kopi pahit. Baru ku tahu pagi itu, bahkan ketika ku bergumul dengan ribuan nyawa, dan beberapa biji kopi. Semua mengatakannya dengan santun dan sedikit retorika, yang sama – sama dusta.

(10.20 waktu indonesi bagian puskom lantai 1, pojok ruang yang berjejer, pondok riset november 2004)
One Comment