Cerita Infrastruktur Internet Part 4 : Proses Membangun Infrastruktur

Saya percaya bahwa adanya akses internet saat ini menjadi sebuah keniscayaan, terutama ketika hampir semua lini masyarakat menggunakan Internet dalam kegiatan sehari-hari dari mulai urusan belanja keperluan sehari-hari sampe urusan pembelajaran daring yang kini menjadi wajib akibat adanya pandemic covid-19 yang berkepanganjang. Hal ini juga terjadi di Pedesaan, yang dahulu dianggap gak terlalu penting, kini akses internet menjadi hal wajib untuk bisa diakses oleh masyarakat pedesaan. 

Pengalaman itu sebetulnya saya rasakan sendiri, Selama pandemik ini saya full melakukan kegiatan salah satu pekerjaan saya yaitu mengajar di salah satu kampus kesehatan di Kota Sukabumi dengan cara daring melalui Zoom Meeting Class, selain koordinasinya via Whatsapp dan Penugasan dan Materi kelas melalui Google Classroom. Saat awal-awal sebelum adanya infrastruktur Internet berbasis Komunitas berjalan di Kecamatan Ciracap ini, saya harus menumpang akses internet Wifi di sebuah Kedai Kopi yang memiliki akses internet cukup stabil di Kecamatan Surade. 

Kecamatan Ciracap yang berada di ujung selatan Kabupaten Sukabumi saat ini merupakan salah satu kecamatan yang banyak memiliki titik blank spot akses internet, bahkan di beberapa titik akses selular saja sangat sulit diakses untuk digunakan menelpon atau sms, mungkin ada yang bagus untuk 1 provider, dan jelek sekali untuk provider yang lain. Dengan kondisi seperti ini, pengembangan Infrastruktur di Kecamatan Ciracap menjadi hal yang sangat penting dalam rangka pemerataan akses internet di Pedesaan. 

Melalui Program Pengembangan Infrastruktur Internet berbasis komunitas di Pedesaan, Common Room menggandeng Relawan TIK Sukabumi untuk memunculkan solusi adanya akses internet yang terjangkau di Pedesaan dengan pola strategi berbasis komunitas. Program ini mendorong terbentuknya Komunitas TIK di Kecamatan Ciracap yang melibatkan institusi Pendidikan yaitu SMK Eka Nusa Putra sebagai tulang punggung SDM yang nantinya akan mengawal proses pengembangan Infrastruktur Internet ini. 

Dalam Pengembangan Infrastruktur Internet berbasis Komunitas di Pedesaan memang penyiapan SDM menjadi salah satu hal yang perlu disiapkan terlebih dahulu sebelum perangkat infrastruktur dipasang. Berangkat dari pemikiran ini, pada awal bulan November, tepatnya 4/11 2020  tim Komisariat Relawan TIK SMK Eka Nusa Putra difasilitasi oleh Common Room diberi pembekalan untuk belajar dan studi banding bagaimana infrastruktur Internet berjalan dengan menggandeng Internet Service Provider mitra yang nanti nya juga akan mendampingi proses pengembangan infrastruktur internet di Kecamatan Ciracap ini. 

Selama seminggu, sebanyak 3 orang siswa SMK dan 3 Guru Pembina berangkat ke Kabupaten pandeglang dimana PT Awinet Global Mandiri berkantor dan mengembangkan infrastruktur Internet Pedesaan yang nantinya bisa diimplementasikan di Kecamatan Ciracap kabupaten Sukabumi. Selain Studi Lapangan, Tim juga dibekali keahlian-keahlian dasar bidang Teknik Komputer dan Jaringan oleh tenaga-tenaga ahli dari PT Awinet Global Mandiri, sekaligus dilibatkan dalam kegiatan di lapangan saat teknisi mengelola dan memasang akses internet. Kegiatan ini diharapkan menjadi bekal saat siswa yang tergabung dalam Komisariat Relawan TIK SMK Eka Nusa Putra nantinya melakukan pengelolaan dan pengembangan Infrastruktur Internet di Kecamatan Ciracap.

Setelah SDM siap, kegiatan pertama dalam pengembangan infrastruktur Internet ini adalah pemetaan untuk penentuan titik-titik awal pemasangan Perangkat Internet dalam hal ini titik yang akan dipasang perangkat Mikrotik Light Head Grid (LHG 5 RB), melalui perangkat ini akan menjadi perantara dalam mentransmisikan jaringan internet dari BTS yang ada di Ciemas ke beberapa titik di Kecamatan Ciracap. Dalam proses membangun Infrastruktur Internet berbasis komunitas di Pedesaan ini bukan hal yang mudah, ada banyak hambatan dan tantangan yang dihadapi Tim pengembangan.  

Salah satu Tantangannya yaitu saat melakukan scanning atau pencarian sinyal point to point dari BTS yang ada di Ciemas ke Ciracap. “Lahan di wilayah Ciracap banyak sekali perkebunan kelapa. Tantangannya yaitu harus melebihi tinggi pohon kelapa untuk mencari sinyal,” tambah Reza. Selain itu, Tim SMK Eka Nusa Putra sedang mengembangkan prototipe tower yang terbuat dari bambu, namun masih perlu disempurnakan. “Masih kurang tinggi untuk acces point, minimum 20 hingga 30 meter, sehingga solusinya masih harus ada Tower triangle untuk penerima akses point to point ini.. Untuk sementara bambu digunakan sebagai pengganti pipa untuk kebutuhan distribusi jaringan”, jelas Reza. Kendala lain yang dihadapi dalam pemasangan perangkat adalah seringnya listrik mati.

Cerita tentang tantangan dan Hambatan selama Proses Membangun Infastruktur Internet berbasis Komunitas di Pedesaan ini akan saya ceritakan secara khusus di Part 5 Cerita Infrastruktur Internet pada postingan seri Ngeblog ini besok yah, pantengin terus ceritanya, mudah-mudahan gak bosen.